RSS

Menipu Tak Kenal Status

15 Apr

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Jika berbicara ia berdusta. Jika berjanji ia mengingkari. Dan jika dipercaya ia berkhianat. “ (H.R. Muslim).

Sesungguhnya, orang-orang munafik itu tempatnya hanyalah di kerak neraka yang menyala-nyala.” (QS an-Nisa : 145)

Dulu saya pernah menulis tentang dusta. Tepatnya, jagan ada dusta diantara kita. Ya, begitu sering kita berdusta. Dusta pada diri sendiri, dusta kepada orang lain, dusta pada Rasul dan dusta kepada Allah.

Kali ini, saya kembali terinspirasi untuk menulis tentang dusta. Setelah kejadian penipuan yang dialami seorang mustahik Dompet Dhuafa Harian Aceh, Maini, 37 tahun. Seorang janda miskin beranak dua yang mengidap tumor rahang sejak 2 tahun lalu.

Kejadian ini bermula dari datangnya seorang bapak yang mengaku orang tua Maini ke kantor Harian Aceh beberapa minggu yang lalu. Saat itu sang Bapak datang dengan membawa foto Maini yang terlihat mengalami benjolan di rahang sebelah kiri.

Berbekal sedikit data yang diperoleh, DD Harian Aceh meluncur ke kediaman Maini di Gampong Cot, kecamatan Muara Tiga, Pidie. Dari hasil investigasi lapangan, DD menyimpulkan bahwa Maini berhak menjadi mustahik (penerima) bantuan biaya berobat.

Karena jumlah dana yang dibutuhkan untuk operasi begitu besar. Dan DD belum bisa menyanggupi seluruh biaya operasi. Maka DD memercayakan uang tersebut kepada sang Bapak. Guna dikumpulkan untuk kebutuhan biaya operasi Maini.

Namun, siapa sangka pagar akan makan tanaman. Sang bapak yang seharusnya menjadi pengayom dan pelindung anak, ternyata tega memanfaatkan penyakit anaknya untuk memperoleh keuntungan pribadi. Semua uang bantuan dari beberapa lembaga sosial, tidak sepeser pun ia gunakan untuk kebutuhan anaknya. Melainkan dia habiskan untuk berfoya-foya. Na’uzubillah.

Sebuah kejadian yang begitu ironis di negeri syari’at ini. Memang kita merasa kecolongan. Namun, kami (DD) juga perlu mengingatkan kepada sang Bapak (saya berharap ia membaca tulisan ini). Dana yang kami berikan kepada Maini melalui bapak adalah dana yang bersumber dari zakat. Tidak semua orang bisa mendapatkan dana tersebut. Kecuali hanya orang-orang tertentu yang berhak menerimanya. Jika dana zakat digunakan untuk kepentingan yang bukan pada tujuan pemberiannya. Apalagi dihabiskan oleh orang-orang yang bukan penerimanya. Maka Allah akan mengazab (menyiksa) orang tersebut dengan siksaan yang maha dahsyat. Ingatlah… Bahwa azab (siksaan) Allah sangat pedih. Dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu.

Saya tidak ingin menakut-nakuti siapa pun. Namun, seperti itulah janji Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang yang mendustakan agama-Nya.

Mungkin hari ini kita bisa berlindung di balik kuasa manusia. Entah aparat atau siapa saja yang punya kuasa. Tetapi, mereka hanya manusia biasa seperti saya dan juga anda. Dan tidak ada yang punya kuasa saat kehendak Allah berlaku. Na’uzubillah.

Kejadian yang penulis ceritakan diatas adalah kejadian yang biasa berlaku di tengah kita. Meski yang kita tipu adalah anak kita atau diri kita sendiri, ia tetap kejahatan dan kemaksiatan yang menyangkut dengan hukum Allah. Menipu diri, menipu anak adalah bagan dari menipu Allah. Kok bisa…?

Allah begitu memuliakan jiwa-jiwa hamba-Nya. Syariat Allah mengajarkan manusia untuk melindungi dan mengayomi anaknya. Lihat saja ayat Allah yang menuntut manusia melindungi diri dan keluarganya.

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. at-Tahrim : 6)

Dan manusia terbaik menurut pandangan Rasulullah adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Rasulullah bersabda,

“Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. An-Nisa : 142)

Manfaat yang kita peroleh dari menipu hanyalah sesaat. Namun, ruginya sepanjang masa. Bahkan sampai ke akhirat. Ibnul Qayyim rahimullah mengatakan “Hanya orang-orang bodoh yang rela menjual kebahagiaannya yang abadi di akhirat denga kepuasaan dunia yang sesaat.”

Sekarang yang seharusnya menjadi pertanyaan kita adalah sudahkan kita bersih dari sifat-sifat munafik yang sebutkan Rasulullah? Dan sudahkah kita meninggalkan sifat-sifat orang yang menjual kebahagiaanya demi kepuasan nafsunya semata? Wallahu a’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: