RSS

Tiga Hari Yang Menentukan

30 Apr

Oleh : Tgk. Farid Wajidi

Kegembiraan tergambar jelas di raut wajah mereka. Perjuangan dan pengorbanan yang telah mereka persembahkan selama tiga tahun ternyata tidak berbuah sia-sia. Kebahagiaan membuncah dari lubuk hati. Hingga tidak ada kata yang mampu mewakilkan luapan rasa emosi yang bergemuruh dalam dada. Berbagai macam kegiatan dilakukan sebagai wujud syukur atas kelulusan. Dari sujud syukur sampai kegiatan gila-gilaan dengan mencorat-coret baju seragam. Ini adalah bentuk suka cita atas nikmat kelulusan pada Ujian Nasional (UN) Sekolah.

Di sisi lain, ada anak-anak, dewan guru dan kepala sekolah yang dirundung duka. Harapan besar untuk menjadikan sekolah mereka sebagai kebanggaan wali murid dan warga sekitar pupus. Patokan nilai 5,50 yang ditetapkan DIKNAS tidak berhasil mereka tembus. Barikade tembok pemisah antara sekolah di pedesan dan perkotaan – khususnya kota besar – mungkin terlalu sukar ditaklukkan. Air mata mulai menetes di sana. Luapan emosi pun bergemuruh. Cita-cita yang jauh-jauh hari telah di gantung di langit tertinggi peradaban dunia harus serta-merta sirna diterpa bayu bernama Standar Kelulusan Ujian Nasional.

Lantas, apakah salah menetapkan nilai kelulusan secara nasional?. Bukankah standar nasional menjadikan kualitas pendidikan Indonesia akan setara di setiap lini? Sehingga kompetensi para pelajar bisa disama-ratakan di setiap daerah?.

Pada dasarnya pendidikan tidak hanya menjadi media transfer informasi dan data semata. Tetapi pendidikan semestinya menjadi wajihah yang mampu mencetak generasi yang cerdas dan memilki akhlak mulia. Coba perhatikan pengertian pendidikan berikut ini.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mendefinisikan pendidikan sebagai proses memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Ki Hajar Dewantara yang dikukuhkan sebagai tokoh pendidikan nasional pun memberikan pengertian yang serupa. Beliau mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat.

Merujuk pada dua pengertian di atas, kita bisa memahami bahwa sesungguhnya sistem pendidikan di Indonesia telah berada dalam katagori dhalalam ba’ida (kesesatan yang jauh). Esensi pendidikan dan ruh-nya telah hilang. Yang menjadi penekanan sekarang hanya pada nilai kelulusan. Titik tekannya adalah kemampuan si anak untuk menyelesaikan soal yang bersifat teoritis semata. Sedangkan inti dari pendidikan yang sebenarnya, sebagai ladang membentuk akhlak mulia telah sirna dimakan kompetisi dan pengaruh pendidikan dunia luar (pendidikan dunia barat).

Penilaian yang bersifat kognitif yang bertumpu pada kemampuan si anak menyelesaikan soal-soal teroitis ditambah dengan gengsi sekolah yang tidak ingin menjadi sekolah yang mempunyai nilai kelulusan yang rendah telah memicu terjadinya pelanggaran akhlak mulia. Kecurangan saat pelaksanaan ujian nasional telah menjadi rahasia umum. Dan kecurangan itu tidak terjadi atas inisiatif siswa semata. Tetapi atas inisiatif dan restu dari pihak sekolah. Inilah buah dari standar kelulusan nasional. Inikah yang diharapkan dari sistem pendidikan kita? Coba tanyakan pada hati nurani kita.

Dr. Muhammad Syafii Antonio, M. Ec. Dalam bukunya Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager, mengungkapkan bahwa dunia pendidikan kita hari ini telah kehilangan sosok teladan. Sehingga dibutuhkan figur pendidik yang ngemong dan memperlakukan siswa sebagai organisma yang tumbuh dan perlu diperhatikan dari waktu ke waktu. Karena memang pendidikan sejatinya merupakan proses transformasi nilai dan budi pekerti bukan sekedar transmisi informasi dan data belaka.

Sistem pendidikan yang carut-marut telah menjauhkan pendidikan dari memanusiakan manusia. Dunia pendidikan tidak lagi menghasilkan manusia-manusia yang beradab dan berakhlak mulia. Benih-benih kejahatan tertanam dengan sendirinya saat peserta didik menjalani pendidikan. Hingga ia akan mengurat akar dalam benak siswa dan tentunya akan terus dibawa sampai ke dunia kerja.

Oleh karenanya, jangan salahkan pekerja yang tidak becus bekerja. Karena memang dunia pendidikan begitu mengajari mereka. Yang difokuskan adalah angka, bukan kualitas manusia. Adalah suatu kebijakan yang tidak masuk akal, proses pendidikan selama tiga tahun di tentukan dalam tiga hari UN saja. He..he… Apa kata dunia… wallahu a’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 30, 2010 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: