RSS

Kematian

17 May

Saat Ajal Menjemput

Oleh : Tgk. Farid Wajidi

Tidak ada satu manusia atau makhluk pun yang bisa mengetahui saat datangnya. Dan tidak ada seorang pun yang mampu mencegah apalagi menghalangi kehadirannya. Ya, kematian adalah sebuah kewajiban bagi yang hidup. Hidup adalah pilihan. Tapi kematian adalah kepastian. Hanya waktu saja yang menentukan. Tinggal kita yang memilih akan mati dalam keadaan apa, husnul khatimah (mati dalam kebaikan) kah, atau su’ul khatimah (mati dalam keburukan).

Beberapa waktu belakangan saya dikejutkan dengan kematian orang-orang terdekat, dengan kematian yang tidak disangka-sangka. Memang ajal tidak bisa diduga. Kematian menghadirkan keheranan dan takjub akan kuasa Allah untuk menjemput hamba-hamba-Nya. Kapan saja, dimana saja. Tanpa ada pertanda apalagi pemberitahuan sebelumnya. Semuanya berlangsung begitu saja. Seakan ia terlelap dalam tidurnya. Namun tak pernah kembali terjaga. Karena ia telah berada di sisi Tuhannya.

Allah swt. Berfirman,”Jika datang ajal mereka maka tidak akan diakhirkan sesaat pun, dan tidak akan diawalkan.”. Semuanya akan datang pada saat yang telah dijanjikan.

Kematian adalah pelajaran yang berharga bagi manusia. Melewatinya berarti telah kehilangan pelajaran berharga dalam kehidupan.

Hidup di dunia adalah sementara. Ia laksana pemberhentian sementara di tengah perjalan yang jauh menuju pelabuhan di keabadian. Begitu para Alim Ulama mengibaratkan. Kehidupan di dunia adalah tempat mengumpulkan bekal amal kebajikan bagi kehidupan di keabadian. Kelalaian dalam kehidupan dunia akan berakibat bagi pada penyesalan yang tak berujung. Penderitaan sepanjang masa. Dan akan berakhir dalam kesengsaraan dalam kerak neraka.

Kematian sudah seharusnya menjadi pelajaran bagi manusia yang ditinggalkan. Bahwa tidak ada keabadiaan dalam kefanaan. Tapi keabadian akan datang setelah kefanaan. Abadi dalam kesenangan atau abadi dalam kesengsaraan. Kematian seharusnya menghadirkan itrospeksi dan mawas diri akan persiapan perbekalan untuk kembali menghadap Tuhan.

Betapa sering kita berjanji dalam hidup ini, bahwa shalat kita, ibadah kita, kehidupan kita dan kematian kita sepenuhnya kita serahkan kepada Allah semata. Dan janji itu senantiasa kita ulang-ulang sepanjang hari dalam shalat kita. Sudahkah janji itu kita tunaikan?. Sudahkah kita hidup sesuai dengan apa yang kita ikrarkan?.

Apa sesungguhnya yang kita cari dalam dunia ini? Kekayaan? Anak-Isteri? Kesenangan duniawi? Akankah kita menggadaikan kebahagiaan abadi dengan kesenangan dunia yang sesaat?

Ibnul Qayyim Al-jauziyah pernah mengatakan, “Hanya orang-orang dungu yang mau menukarkan kebahagian akhirat yang abadi dengan kesenangan dunia yang sesaat.”

Allah swt. tidak mencampakkan manusia ke bumi ini begitu saja. Tetapi Ia juga menurunkan tuntunan bahkan contoh teladan yang menjadi pilot project penerapan syariat bagi manusia di muka bumi ini. Setelah semua itu, Allah pun akan menguji ketaatan dan kepatuhan hamba-Nya akan atas perintah dan batasan yang telah Ia janjikan.

Allah telah menganjurkan hamba-Nya untuk taat pada perintah-Nya. Shalat, zakat, puasa dan haji. Semua perintah-Nya didasarkan atas aspek hubungan Dirinya dengan hamba-Nya dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Aspek ketuhanan dan aspek sosial kemasyarakatan. Shalat dan puasa merupakan ibadah yang bersifat private, pribadi manusia dengan Tuhannya. Tidak ada andil manusia lain di dalamnya. Sedangkan zakat dan haji akan melibatkan manusia lain dalam menunaikannya. Terutama zakat, selain sebagai kewajiban kepada Tuhan. Zakat menjadi cerminan kepedulian kepada sesama.

Sejauh mana kepedulian kita kepada saudara kita, keluarga kita, tetangga kita dan umat manusia? Sudahkah kita membahagiakan mereka sebelum ajal menjemput kita? Bukankah Allah telah berfirman, “Dan nafkahkanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu (rezeki), sebelum ajal datang menghampirimu.”

Penyesalan datangnya selalu belakangan. Oleh karenanya, sebelum ajal datang menjemput nyawa, asahlah perhatian dan kepedulian kita kepada sesama kadung nyawa dikandung badan. Agar penyesalan di negeri keabadian tidak menyusup dalam kalbu kita. Semoga…

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 17, 2010 in Syari'ah

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: