RSS

Pilih Mana? Memberi atau Menerima

08 Jul

Memberi dan menerima adalah dua kata yang memiliki padanan makna yang jauh berbeda. Saling bertolak-belakang satu sama lain. Keduanya bisa menggambarkan kondisi filosofis seseorang. Bahkan peradaban. Saat budaya memberi atau menerima telah dilazimkan dalam kehidupan, maka derajat kemuliaan seseorang akan ditentukan. Begitu juga halnya dengan peradaban. Kebiasaan memberi adalah cerminan orang-orang mulia. Dan sebaliknya kebiasaan menerima menjerumuskan kita pada kehinaan dan kerendahan.

Aceh adalah sebuah bangsa yang memiliki peradaban yang cukup tinggi. Jauh sebelum Indonesia ini ada. Aceh menjadi salah satu bangsa yang diperhitungkan dalam kancah perpolitikan di dunia. Begitu juga halnya setelah Aceh bergabung dengan Indonesia. Aceh selalu menjadi bangsa yang memiliki sifat kasih dan sayang serta mengayomi. Bangsa Aceh selalu menjadi pemberi yang tanpa pamrih. Lihat saja saat perang kemerdekaan. Aceh mampu menyumbangkan pesawat terbang bagi bangsa ini. Tidak hanya satu, tapi dua buah sekaligus. Aceh mampu melakukannya saat suku bangsa lain terpuruk dalam penderitaan akibat dahsyatnya masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Nilai untuk selalu memberi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kultur budaya Aceh yang mapan. Nilai itu diwariskan secara turun temurun kepada anak-cucu keturunan aneuk nanggroe. Hingga malapetaka itu datang. Bencana gempa dan gelombang Tsunami menerjang Aceh, 26 Desember 2004.

Ya. Bencana itu tidak hanya menghadirkan luka dan nestapa akan pedihnya bencana kemanusiaan. Namun juga mendatangkan bencana lain yang tidak kalah dahsyatnya bagi peradaban Aceh yang mulia. Terjangan budaya dan peradaban asing telah menusuk peradaban Aceh dari belakang. Dan menjadikan masyarakat Aceh kehilangan identitas.

Mudahnya akses bantuan kemanusiaan ditunjang dengan rasa menjadi korban bencana. Telah menjadikan sifat mayoritas masyarakat Aceh berpaling dari peradaban bangsa yang suka memberi kepada bangsa yang suka menerima. Dengan sebuah justifikasi bahwa korban bencana layak untuk dikasihani.

Mario Teguh, salah seorang Motivator ulung indonesia pernah mengatakan bahwa “Berhentilah mengasihani diri sendiri. Tetapi sayangilah diri kita, agar kita menjadi manusia yang mulia.”

Bangsa yang mengasihani dirinya adalah bangsa rendahan yang tidak memiliki peradaban. Bangsa seperti ini tidak memiliki mental untuk menjadi yang terbaik. Karena ia hanya memiliki mental sebagai bangsa pengemis, yang hanya bisa menunggu belas kasihan dari bangsa lain.

Fenomena itulah yang saat ini sedang menggerogoti peradaban bangsa yang pernah menjadi sekutu utama Khilafah Utsmaniyah ini. Virus ini semakin lama semakin dalam merontokkan peradaban bangsa Aceh yang pada akhirnya akan menenggelamkan bangsa Aceh dalam lubang kehinaan.

Lihat saja di sekitar kita. Kita akan menemukan betapa masyarakat kita telah menjadi masyarakat yang opertunis. Pasrah dengan keadaan dan lebih banyak menuntut. Kehilangan jati diri sebagai bangsa yang superiority dan terjerambak kedalam bangsa yang imperiority (merasa rendah diri). Sehari-harinya lebih banyak menunggu bantuan ketimbang mengusahakan sebuah perubahan.

Memang ada saatnya kita memberi dan ada saatnya kita menerima. Namun tidak secara otomatis mengahalakan segala cara untuk mendapatakan sebuah pemberiaan. Tidak selamanya kita layak menerima. Karena sudah saatnya kita bangun dari keterpurukan. Bencana sudah lama meninggalkan kita. Sudah saatnya kini kita berdiri diatas kaki kita sendiri. Dan menunjukkan diri kita banwa kita adalah bangsa yang mulia. Katakan “Ha ana dza”, inilah saya.

Dan diakhir tulisan ini saya ingin mengajak kita semua untuk merenungi makna yang terkandung dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi shalatu wa sallam,

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah dan tangan yang di atas suka memberi dan tangan yang di bawah suka meminta.” (H.R. Bukhari no. 1429)

Wallahu a’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2010 in Syari'ah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: