RSS

Shalat dan Keteladanan Yang Telah Hilang

15 Jul

Keteladanan adalah cara terbaik mengajarkan ilmu dan agama kepada seseorang.  Dewasa, remaja, terlebih lagi kepada anak-anak. Namun apa jadinya, jika keteladanan ini harus termarjinalkan oleh satu kata. Bid’ah.

Beberapa hari yang lalu, sekembalinya saya dari Sigli. Karena hari sudah menjelang maghrib. Maka saya memutuskan untuk menunaikan shalat maghrib di sebuah meunasah, sejenis mushalla, di sebuah desa mendekati Indrapuri. Tidak ada yang aneh, karena semuanya berlangsung sesuai dengan tuntunan agama, dari takbiratul ihram sampai berakhir dengan salam. Sedikit keanehan baru terjadi tatkala shalat selesai ditunaikan. Semua jama’ah diam membisu larut dalam dzikir sendiri-sendiri.Sepintas, hal demikian lumrah. Karena kebanyakan jama’ah adalah orang-orang yang telah dewasa dan telah banyak mengenal agama, dengan berbagai macam ibadah di dalamnya. Lantas, bagaimana dengan anak-anak? Haruskah mereka kita biarkan diam saja? Bisakah mereka tetap diam dalam kebiasuan? Atau kita biarkan saja mereka belari-lari saling bercengkrama hingga menimbulkan kegaduhan? Yang ujung-ujungnya akan mengganggu kekusyukan kita berdzikir dan bermunajat kepada Allah.

Masyarakat Aceh, yang mayoritas bermazhab Asy-Syafi’i telah mengenal dzikir dan doa bersama seusai shalat berjama’ah sejak lama secara turun temurun. Hal ini dimaksudkan selain untuk membangun kebersamaan antar jama’ah, juga merupakan proses pembelajaran bagi anak-anak dan orang yang baru belajar agama.

Proses pembelajaran semacam ini dikenal dengan proses pembelajaran dengan keteladanan. Mencontohkan suatu amal untuk bisa dimengerti dan dikerjakan oleh orang lain. Hal semacam ini telah berulang kali dicontohkan Rasulullah meski tidak dalam bentuk dzikir bersama sesudah menunaikan shalat.

Lihat saja, saat Rasulullah menyampaikan perintah Allah untuk menunaikan shalat kepada para shahabat saat ini. Beliau bersabda, “Shalatlah engkau, sebagaimana engkau melihat aku shalat.”

Rasulullah tidak semena-mena. Serta merta memerintahkan para shabat samabil berkacak pinggang. Tetapi Beliau dengan penuh kelembutan mengajarkannya dengan keteladanan. Mencontohkannya terlebih dahulu, baru kemudian meminta para shabat untuk melakukan hal serupa.

Pengajaran dengan keteladanan adalah salah satu bentu pengajaran yang palin efektif. Karena dengan keteladanan, proses pembelajaran akan berlangsung dengan mudah dan menyenangkan tanpa terkesan mengarahkan dan menggurui. Dan dengan keteladanan proses pembelajaran pun tidak akan terpaku pada proses transfer ilmu semata. Tetapi akan lebih dominan pada transfer nilai, yang merupakan tujuan pembelajaran sesungguhnya. Menciptakan manusia seutunya yang cerdas dan berakhlak mulia.

Ketika seorang ayah memerintahkan anaknya untuk menunaikan shalat. Sedangkan ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Dan ketika seorang guru melarang anak didiknya merokok, sementara ia tak henti-hentinya mengebulkan asap. Maka sesungguhnya ia sedang mempersiapkan sebuah generasi pembangkang dan pemberontak. Meski pada awalnya ia mengikuti perintah sang ayah maupun sang guru, namun di dalam hatinya terpatri dengan kuat sebuah sebuah nilai bahwa ada pengecualian ketika dewasa. Sangat berbahaya bukan?

Maka seyogianya, setiap mengajarkan sesuatu atau mengajak seseorang kepada suatu hal dan keadaan. Hendaknya kita terlebih dahulu mencontohkannya. Sehingga keteladanan akan tercipta. Sungguh seorang manusia akan mudah mengerjakan suatu perbuatan jika ia memiliki idola dalam pekerjaannya itu.

Dzikir dan doa sesudah shalat adalah bentuk keteladanan yang dicontohkan untuk anak-anak. Haruskah ia hilang karena sebuah anggapan yang belum tentu salah dan benarnya. Jika semua hal yang tidak pernah dilakukan Rasulullah adalah Bid’ah, maka koran ini bahkan tulisan ini sendiri dihasilkan sebuah sebuah alat yang bid’ah. Mari renungkan bersama. Wallahu a’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 15, 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: