RSS

Murtad di Negeri Nge-Rok

30 Jul

Islam adalah peraturan yang lengkap, mencakup seluruh kenyataan hidup. La adalah negara dan tanah air atau pemerintah dan bangsa, jihad dan dakwah atau tentera dan pemikiran, bijak pandai dan undang-undang atau ilmu dan peradilan, akhlak dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, kebendaan dan kekayaan atau usaha dan harta, begitu pula ia adalah akidah yang Murni dan ibadat yang benar.” (Hasan Al-Banna)

Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang menggemparkan. Peristiwa yang memilukan sekaligus memalukan. Kita kecolongan ditengah antusiasme penegakan syariat. Kita kemalingan ditengah gencarnya budaya nge-rok. Kita dikelabui oleh misi yang berkedok wisata. Wisata yang berujung pada pembalikan akidah Aneuk Bansa. Lalu, siapakah yang patut bertanggungjawab? Dan siapakah yang layak kita salahkan?Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapa-siapa. Kita hanya ingin melihat kejadian ini secara jernih dengan mengesampingkan semua ego kita. Mari kita selami masalah ini dengan satu tujuan agar masalah semacam ini tidak akan pernah terulang lagi di bumi Seuramoe Makkah ini.

Rasulullah Bersabada, “Hampir-hampir saja kefakiran akan menjadi kekufuran dan hampir saja hasad mendahului takdir.”

Meski derajat ke-shahih-an hadits ini masih dipertentangkan para ulama. Namun jika kita merujuk kepada kenyataan maka kita akan menemukan bahwa kefakiran atau kemiskinan begitu dekat dengan kekufuran (kafir) kepada Allah swt. Begitu juga tentunya dengan kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di negeri Teuku Umar, Meulaboh.

Kemiskinan yang kita maksud bukan saja miskin harta. Tetapi juga miskin ilmu dan iman. Miskin harta bisa menyebabkan seseorang terbuai bujuk rayu setan. Sehingga begitu mudah ia terjerumus dalam lembah kemaksiatan. Begitu mudah terjerambak dalam hal-hal yang menjurus kepada kekafiran, yang menggoda keimanan.

Sebuah atsar pernah ditulis, keimanan seseorang itu sangat ditentukan oleh sejengkal di atas pusar dan sejangkal di bawahnya. Karena lapar orang bisa menjual anak. Karena lapar orang bisa hilang ingatan. Dan karena lapar orang pun bisa menukar iman.

Jika hal ini yang terjadi, siapa yang pantas kita salahkan? Hidup dalam kemiskinan bukanlah permintaan mereka. Mereka tidak pernah menjadikannya sebagai cita-cita. Namun kondisi telah menyeret mereka ke sana. Sudah sepatutnya pemerintah lebih care dengan mereka. Lebih-lebih, pemerintah hari ini telah mempunyai lembaga yang bisa memfokuskan diri dalam hal ini. Baitul Maal. Harusnya lembaga semacam ini bisa menjadi ikon pemerintah Aceh dalam menanggulangi dan mengentaskan kemiskinan. Bukan hanya bisa berbangga-bangga dengan jumlah uang (ZISWAF) yang telah dikumpulkan. Karena hari ini masyarakat ingin melihat kerja nyata. Bukan hanya buaian angin surga.

Di lain pihak, usaha untuk mendidik dan menjaga akidah umat juga harus ditingkatkan. Karena dangkalnya iman bisa menjadikan seseorang mudah putar haluan. Keimanan yang tidak memberikan keamanan, kenyamanan dan ketenangan hanya akan menjadi beban. Sehingga ketika rayuan datang, apalagi diiming-imingi dengan kesejahteraan, keimanannya akan mudah lekang. Bak buih disapu gelombang.

Dunia pendidikan hari ini begitu memprihatinkan. Karena ia hanya menjadi pabrik-pabrik yang mencetak robot-robot tanpa moral dan perasaan. Ia hanya memaksa anak didiknya untuk mengukir prestasi akademik. Nyaris melupakan akhlak. Jika pun ada pendidikan akhlak di dalamnya, itu pun hanya bersifat pengetahuan semata yang tidak termanifestasi dalam kehidupan nyata. Beginilah kejadiannya, saat pendidikan hanya menjadi washilah transfer ilmu, bukan transfer nilai.

Kejadian yang menimpa Meulaboh pun tidak terlepas dari problem miskin ini. Miskin harta, ilmu dan iman. Dan sudah menjadi kewajiban sang pemimpin untuk menangani hal demikian. Memang tidak ada salahnya mengajak masyarakat patuh terhadap norma-norma agama dengan menutup aurat. Namun jangan sampai kita terjebak dengan kaifiyat semata. Sehingga kita melupakan substansinya. Karena Islam bukan hanya memakai rok saja. Tapi Islam adalah akidah dan syariah, agama dan negara, kebenaran dan kekuatan, perdamaian dan perjuangan. Islam itu Syammil dan Mutakammil.

Kejadian Meulaboh, seharusnya menjadi cambuk bagi kita semua. Untuk selalu mawas diri dan berjaga-jaga. Bisa saja kejadian serupa juga sedang berlangsung di bagian lain Aceh tercinta. Oleh karenanya, mari buka mata, buka telinga dan mata hati kita. Untuk lebih peduli dengan sesama. Karena Rasulullah pernah bersabda, “Tidak beriman seseorang diantara kamu, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2010 in Kick

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: