RSS

Merayakan Ketidakmerdekaan

18 Aug

Hidup merdeka adalah dambaan setiap anak manusia. Syiek-puiek, tuha-muda. Merdeka yang bermakna bebas. Bebas bekerja. Bebas berkreasi dan berinovasi. Sehingga akan terwujud ketenangan, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup. Namun, apa jadinya jika semua itu tidak pernah ada? Hari Kemerdekaan telah kita miliki. Tapi, kemerdekaan sejati belum kita punya.Enam puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pembangunan sebuah bangsa. Ibarat umur manusia, ia telah memasuki masa-masa tua. Ibarat PNS (Pegawai Negeri Sipli) ia telah pensiun. Hingga kematangan dan kebijaksanaan dalam bersikap dan bertindak seharusnya sudah menghiasi hidupnya. Namun, nyatanya negeri ini, yang diberi nama Indonesia, yang telah merdeka selama enam puluh lima tahun masih saja berkutat dengan persoalan yang tidak kunjung selesai. Pemimpin yang plin-plan. Eksekutif yang kekanak-kanakan. Dan legeslatif yang sakit jiwa. Enam puluh lima tahun ternyata belum menjadikan Indonesia ini menjadi dewasa.

Memang Indonesia telah merdeka selama enam puluh lima tahun. Tapi, hakikat kemerdekaan sesungguhnya belum bisa dirasakan oleh rakyatnya. Pemerintah hari ini baru bisa berbangga dengan angka. Yang kebenarannya entah bisa dipertanggungjawabkan. Lihat saja pidato kenegaraan SBY dua hari lalu, dalam menyambut hari kemerdekaan RI di DPR. Betapa ia bangga dengan capaian pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,0 persen di tahun 2008 dan 4,5 persen di tahun 2009. Padahal di masyarakat ada anak-anak yang mati karena busung lapar. Harga-harga barang meroket tinggi, jauh dari kemampuan daya beli masyarakat. Sehingga ada sebagian masyarakat di Jawa harus mengkonsumsi nasi aking.

Dari segi politik, sifat catok (cangkul), memperkaya diri sendiri pun semakin menjadi-jadi. Permintaan uang aspirasi dan rumah aspirasi adalah salah satu contohnya. Sehingga tidak mengherankan jika banyak kalangan menjadi gerah. Pong Hardjatmo sampai naik ke atap gedung MPR RI menuliskan kata “Jujur, Adil, Tegas.”. Politik yang dimainkan hari ini adalah politik kepentingan. Saat ia dan kelompoknya telah mendapatkan apa yang selama ini di idamkan, maka ia akan diam. Kepentingan rakyat? Nomor tujuh belas. Rakyat hanya dibutuhkan saat Pemilu menjelang. Setelahnya silahkan menempuh jalan sendiri-sendiri.

Korban lumpur Lapindo terus meraung, meronta meminta ganti rugi lahan dan rumah mereka yang tenggelam. Warga eks Blang Lancang dan Rancong Kecamatan Muara Satu, Aceh utara harus menuntut ganti rugi ke Pemerintah akibat relokasi pembangunan kilang PT. Arun. Para penjual makanan kecil berbuka puasa di pinggir jalan di Kota Banda Aceh harus bayar pajak retribusi. Padahal makanan yang dijajakan adalah kue titipan orang dengan keuntungan yang sangat kecil. Lalu apa yang mereka dapatkan?

Program konversi minyak tanah, yang asalnya untuk meringankan beban masyarakat pun berubah jadi program mengurangi pertumbuhan penduduk di Indonesia. Tabung gas telah menjadi pengganti bahan peledak yang sewaktu-waktu siap meledak dan menghanguskan seisi rumah.

Nenek Ainsyah masih tinggal di gubug reotnya yang berukuran 2,5 x 4 meter. Sepanjang hidupnya di habiskan di ruangan kecil dan sumpek. Begitu banyak program yang dicanangkan pemerintah. Tapi, ia hanya mendapatkan beras RASKIN. Selebihnya hanya numpang singgah di depan mata dan numpang lewat di depan telinganya. Hanya orang-orang yang punya akses jalur khusus yang mendapatkannya.

Bantuan masyarakat miskin selama ini pun tidak sepenuhnya sampai ke tangan warga. Jika dari yang berwenang disalurkan 500 ribu rupiah. Namun, yang sampe ke tangan mereka hanya seperdua bahkan sepertiganya.

Biaya pendidikan begitu tinggi. Anak-anak miskin hanya bisa sekolah di sekolah biasa. Itu pun diharuskan untuk membeli perlengkapan sekolah sendiri. Sedangkan orang tuanya hidup dalam keadaan morat-marit. Jangankan untuk beli perlengkapan sekolah, untuk membeli beras saja susah.

Biaya kesehatan apalagi. Jika pun biaya berobatnya bisa gratis. Tapi, tidak untuk obat-obatannya. Jika pun obat-obatannya gratis. Tapi tidak untuk kebutuhan transportasi ke rumah sakit. Jika pun transportasi ke rumah sakit gratis. Tapi tidak untuk kebutuhan sehari-hari selama proses perawatan. Sehingga, jika tulang punggung keluarga yang menderita sakit. Maka keluarga harus siap-siap untuk hidup menderita dan merana. Hingga ada sebuah pepatah, “Orang Miskin dilarang sakit.”

Oleh karenanya, jangan salahkan masyarakat yang tidak punya rasa cinta tanah air. Patriotismenya memudar. Hubbul wathan-nya hilang. Karena ternyata rakyat belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Indonesia memang sudah merdeka. Tapi, mereka masih hidup dalam keadaan terjajah. Negeri yang kaya dengan sumber daya alamnya. Tapi masyarakat hidup miskin dan mati menderita. Lagee manok matee lam krong pade.

Bagi masyarakat, Ulang Tahun Kemerdekaan hanyalah seremonial semata. Selebihnya, mereka akan tetap tenggelam dalam kubangan derita. Merayakan kemerdekan sesungguhnya hanya merayakan ketidakmerdekaan. Merayakan kemerdekan sejatinya hanyalah merayakan keterjajahan. Jika dulu terjajah oleh kolonial Belanda dan Jepang. Maka sekarang terjajah oleh anak bangsa sendiri. Terjajah oleh manusia-manusia yang tidak punya rasa.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2010 in Kick

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: