RSS

Banjir Yang Diundang

08 Oct

Musim penghujan kembali menyelimuti nusantara. Dari Merauke di timur Indonesia sampai Aceh di bagian baratnya. Hujan adalah rahmat Allah kepada bumi dan seisinya. Dengannya Allah menghidupkan kembali bumi yang telah mati. Dengannya pula Allah memberikan minum manusia dan binatang. Namun, apa jadinya jika hujan tidak lagi memberi berkah. Tapi, malah mendatangkan musibah. Lantas siapa yang patut bertanggung jawab dengan semua ini?Hampir semua media, kemarin (kamis, 7/10) melansir berita musibah banjir yang melanda sebagian besar wilayah daratan Aceh. Aceh Barat Daya, Aceh Jaya dan Aceh Utara.

Berbicara masalah banjir sesungguhnya kita berbicara mengenai tiga aspek. Sebab terjadi, efek yang ditimbulkan, dan cara kita menyikapinya.

Tidak hanya banjir saja. Tapi bencana lain pun disebabkan oleh dua faktor. Gejala alam (kehendak Allah) dan ulah manusia. Namun, yang paling dominan adalah dikarenakan ulang tangan manusia. Sebagaimana firman Allah swt,

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Ruum : 41)

Banjir kali ini misalnya. Ini tidak terlepas dari sebab ulah manusia. Lihat saja kondisi alam sekitar. Terutama kondisi hutan. Hutan yang notabene-nya menjadi daerah resapan air hujan telah gundul. Akibat proses penebangan serampangan tanpa adanya reboisasi (penanaman kembali) oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Inilah akibat dari penyakit rabun jauhnya para perambah hutan. Yang nampak di matanya hanya buntelan rupiah. Ia tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya. Baik dalam jangka pendek. Apalagi jangka panjang. Rupiah telah menutup mata batinnya.

Memang kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan mencari nafkah dari sumber hutan. Tetapi, peran pemerintah seharusnya bisa lebih dominan. Dengan membuat regulasi dalam proses perambahan. Atau dengan memaksimalkan penyediaan lapangan kerja di sektor lain.

Aspek kedua adalah akibat atau efek yang ditimbulkan oleh banjir. Jika kita membuka kembali sejarah-sejarah masa lampau. Terutama sejarah Mesir kuno. Tentunya kita akan menemukan bahwa banjir tidak saja menjadi bencana bagi masyarakat. Tapi juga sekaligus membawa berkah. Banjir akibat meluapnya sungai Nil misalnya. Selain merendam kawasan bantaran sungai, banjir juga membawa kesuburan bagi lahan pertanian di sisinya. Dan tentunya tidak tertutup kemungkinan dengan banjir yang kita alami saat ini.

Namun, yang harus menjadi titik tekan kita adalah haruskah kita menelan pil pahit bencana terlebih dahulu untuk mendapatkan kesuburan yang nyatanya bisa diusahakan melalui jalan lain?

Aspek ketiga adalah cara kita menyikapi bencana banjir yang kerap terjadi di sekitar kita. Kadangkala kita melihat banjir hanya sebatas rutinitas semata. Yang datangnya secara berkala. Sehingga membuat sebagian kita merasa lumrah dan acuh dengan keadaan. Padahal nyatanya ia telah merobek ketenangan saudara kita. Meluluh-lantakkan harta bendanya. Bahkan mungkin saja sampai merebut nyawa keluarganya.

Akankah kita diam saja, jika hal ini menimpa saudara kita? Sungguh ter…la-lu…! (meminjam gayanya bang Oma Irama). Fungsi seorang Muslim terhadap Muslim yang lainnya adalah laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka bagian yang lainnya pun akan ikut merasakannya.

Oleh karenanya marilah kita introspeksi diri. Pertimbangkanlah semua baik buruknya sebelum kita melangkah lebih jauh. Cep-cep dilee kata Indatu kita, bek ban ka mameh langsong ta-‘ut. Oh ka saket pruet baro tarasa.

Banjir memang musibah dan ia adalah bencana alam. Namun, janganlah kita mengundangnya untuk datang menghampiri. Menjaga hutan dan lingkungan agar tetap lestari adalah salah satu jalan agar ia tidak mudah datang.

Dan akhirnya, jangan lupa sisihkan sedikit rezeki kita untuk membantu saudara kita yang menjadi korban bencana. Saat ini adalah ujian bagi mereka dan juga kita. Masihkah kita punya empati? dan masih kah kita peduli?. Jika ia, maka buktikanlah…!

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: