RSS

Dhuafa Tidak Hanya Ada Di Ramadhan Saja

15 Sep

Ramadhan telah pun pergi. Idul Fitri pun telah kita lalui. Tidak ada lagi pelipat gandaan pahala. Tidak ada lagi malam bonus yang dijanjikan, yang lebih baik dari seribu bulan. Semuanya telah pergi. Dan entah ia akan kembali lagi. Sekarang, tinggal hanya hari-hari biasa yang akan kita lalui. Seperti hari sebelumnya. Sebelum Ramadhan datang. Namun demikian, bukan berarti ibadah kita pun ikut berkurang dan amalan kita pun ikut hilang. Karena kemenangan sejati kita dari pertarungan di bulan ramadhan tercermin dari perilaku kita setelah Idul Fitri datang.

Ramadhan adalah bulan latihan, melatih kesabaran untuk menahan diri di siang hari dari sesuatu yang dihalalkan. Dihalalkan di bulan lain. Tapi tidak di bulan Ramadhan. Sehingga emosi akan terkendali dan amarah akan terarah. Ramadhan juga mengajarkan kita kepedulian. Peduli dengan kondisi di sekitar kita. Masyarakat di sekeliling kita. Mengasah empati dan menabur simpati. Hingga tidak mengherankan, jika di bulan ramadhan lahir begitu banyak para dermawan yang menyantuni fakir miskin, janda-janda tua, orang-orang jompo dan anak-anak yatim. Semuanya karena kepedulian mereka.

Hari ini Ramadhan telah pergi. Ia meninggalkan kita dengan segala suka dan duka. Suka karena kemenangan melawan nafsu. Dan duka karena gagal memaksimalkan kesempatan mereguk ampunan yang Allah sediakan. Ramadhan pergi bukan berarti kepedulian kita pun ikut pergi. Karena mustadh’afin dan dhuafa tidak hanya ada di bulan Ramadhan. Mereka masih juga ada setelah Idul Fitri menjelang. Dan mereka akan senantiasa ada selama kehidupan ini ada. Mereka adalah ujian bagi kita. Ujian kepedulian. Mereka adalah ladang amal bagi kita. Tempat bercocok tanam, menyemai benih amal untuk menuai ganjaran kebajikan.

Namun sayangnya, fenomena hari ini menyuguhkan pemandangan yang sedikit ironis. Dimana kita – Umat Islam – berbondong-bondong menjadi dermawan di bulan Ramadhan. Dan kemudian hilang sering ramadhan pergi. Dan kepedulian itu pun masih terfokus dalam bentuk santunan. Padahal yang dibutuhkan dhuafa tidak hanya terbatas kepada santunan semata. Karena bisa jadi santunan itu hanya akan menghasilkan 2P (meminjam istilah Bapak Zakat Indonesia, Erie Sudewo), Pameran kebajikan dan Pelestarian kemiskinan. Artinya, santunan yang kita berikan hanya bersifat memenuhi kebutuhan sesaat saja. Dhuafa akan tetap dhuafa. Hanya kita yang memperoleh untung semata. Karena nama kita kian tenar karena santunan kita.

Coba perhatikan jumlah santunan yang biasa diberikan oleh saudara-saudara kita kepada dhuafa. Jika ia berbentuk kebutuhan pokok, biasanya hanya beberapa kilogram beras, minyak goreng dan terigu. Dan jika dalam bentuk uang tunai, itu pun hanya berkisar Rp. 100.000 sampai Rp. 200.000,- saja. Sesekali jika ada Rp. 500.000,- tapi nyan hana tom taleupoe. Pertanyaannya sekarang adalah berapa lama santunan seperti itu akan bisa memberikan manfaat bagi dhuafa? Boro-boro sebulan, mungkin dua tiga hari saja santunan itu telah habis dikonsumsi.

Seharusnya kita tidak memperlihatkan kepedulian kita dalam bentuk santunan semata. Tetapi juga mewujudkannya dalam bentuk memberikan skill, agar dhuafa memiliki skill yang mumpuni. Kepedulian juga bisa dalam memberikan akses kerja agar hasil usaha kecil milik dhuafa bisa lebih meningkat dari sebelumnya. Kepedulian juga dapat diwujudkan dengan memberikan akses modal usaha, agar dhuafa bisa memperbesar skala usahanya dengan modal yang mudah dan halal. Kepedulian pun bisa diwujudkan dengan memberikan akses teknologi, sehingga produk usaha dhuafa bisa bersaing di pasaran. Tak hanya itu, kepedulian juga bisa diberikan dengan advokasi, yakni dengan memberikan kebijakan yang baik terhadap para dhuafa yang susah payah berusaha. Dan masih banyak lagi bentuk kepedulian yang masih bisa kita ciptakan.

Alangkah indahnya, jika kepedulian yang telah kita persembahkan dengan penuh cinta kepada mereka bisa membuahkan kemandirian. Mereka tidak lagi tergantung dengan kita. Mereka telah bisa tegak di atas kaki mereka sendiri. Bahkan kita berharap agar mereka bisa bergabung dengan kita menularkan kepedulian dan kemandirian kepada dhuafa lainnya di tahun yang akan datang.

Karenanya, janganlah kita memandang kepedulian itu hanya sebatas santunan dan sedekah saja. Namun, masih banyak bentuk kepedulian lainnya yang bisa kita persembahkan kepada mereka. Dan yang harus tetap diingat selalu adalah pembinaan dan pemandirian dhuafa tidak hanya bisa dilakukan dalam sekejap mata. Tapi, ia membutuhkan waktu yang panjang dan lama. Tidak akan cukup waktu yang hanya sebulan Ramadhan saja. Dan akhirnya, hiasilah selalu diri kita dengan kepedulian kepada dhuafa sepanjang masa. Karena dhuafa tidak hanya ada di bulan Ramadhan saja. Wallahu a’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 15, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: