RSS

Ikat Dulu Kudamu, Baru Engkau Bertawakkal

04 May

Beberapa waktu yang lalu seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh diingatkan oleh kakeknya untuk menggunakan kunci tambahan pada sepeda motornya. Mengingat sudah semakin merajalelanya pencurian sepeda motor di kawasan kampus. Sang mahasiswi pun dengan PeDe-nya mengatakan bahwa ia bertawakkal kepada Allah. Tidak lama berselang, sepeda motor kesayangannya pun raib digondol maling. Sang kakek pun berkata kepada cucunya, “Sudahkah engkau bertawakkal cucuku?,

Tentunya kejadian serupa banyak kita jumpai dalam hidup kita. Atau bahkan mungkin kita sendiri pun pernah mengalaminya. Ke-PeDe-an kita mengantarkan kita kepada sikap yang sangat ceroboh. Akhirnya, sesuatu yang menjadi kesayangan kita raib dari pandangan mata. Tidak hanya barang, mungkin juga peluang yang telah lama kita idam-idamkan.

Tulisan ini tidak bermaksud mengaburkan makna tawakkal yang sesungguhnya. Namun lebih dari itu tulisan ini berupaya untuk mengembalikan makna tawakkal yang sebenarnya.

Menurut Imam Ahmad bin Hambal, tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.

Sedangkan menurut Ibnu Qayyim al-Jauzi, Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (faktor-faktor yang mengarahkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.

Inilah makna tawakkal yang difahami oleh Shalafus Shalih. Dan dari situ kita bisa memahami bahwa tawakkal bukanlah semata-mata memasrahkan saja semua keputusan di tangan Allah. Namun lebih dari itu, tawakkal adalah berusaha semaksimal mungkin untuk meraih sesuatu yang dicita-citakan dengan membulatkan azzam  dan memaksimalkan usaha dan kemudian menyerahkan hasil akhir dari usahanya itu menurut keputusan Allah. Intinya, tidak ada tawakkal sebelum adanya usaha.

Rasulullah SAW bersabda, ”Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Dalam hadits di atas Rasulullah menegaskan kepada kita bahwa burung pun tidak menunggu makanan di sarangnya. Tapi, ia pergi (mencari karunia Allah) pada pagi hari dengan perut kosong karena lapar, namun di sore hari ia pulang dalam keadaan perut kenyang dan terisi penuh. Ini bermakna bahwa burung pun berusaha untuk mencari. Bukan berdiam diri menunggu. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian Umar bin Khattab mencak-mencak saat melihat ada sebagian kaum muslimin yang tidak bekerja dan hanya duduk berzikir saja di masjid dengan alasan bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya, falsafah ya ghani – ya ghani neutiek péng sabôh guni tidak akan berlaku tanpa adanya usaha dari hamba.

Tawakkal yang merupakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah SAW, jika dilakukan dengan baik dan benar, insya Allah tidak akan menjadikan seorang hamba menjadi hina dan tidak memiliki apa-apa. Karena tawakkal tidak identik dengan kepasrahan yang tidak beralasan. Namun tawakkal harus terlebih dahulu didahului dengan adanya usaha yang maksimal. Hilangnya usaha, berarti hilanglah hakekat dari tawakal itu.

Terakhir, mari kita lihat sikap Rasulullah saat melihat seorang Muslim yang bergegas memasuki masjid untuk mengejar berkah Allah tanpa mengikat kudanya terlebih dahulu. Ketika ditanya Rasulullah ia beralasan bahwa ia bertawakkal kepada Allah. Maka Rasulullah bersabda, “ikat dulu kudamu, baru engkau bertawakkal”. Wallahu a’lam…

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 4, 2012 in Syari'ah

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: