RSS

Hidup Susah Tak Lupa Bersedekah

26 Mar

Kiban ta neuk meuseudekahImage

Meu keu tapajoh hana sep…

(Bagaimana mau bersedekah, buat makan saja masih susah…)

Rangkaian kalimat di atas begitu sering menghiasi bibir kita. Bak gincu, seolah tak lengkap dalih kita, jika tidak memolesnya dalam setiap alasan penolakan kita akan ajakan bersedekah. Padahal perintah bersedekah tidak dikhususkan kepada orang kaya semata. Allah swt menyampaikan perintah tersebut secara umum dalam kitab-Nya. Miskin bukan berarti tidak bisa bersedekah. Biar hidup susah, tak lupa bersedekah. Bagaimana caranya?Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa keluarga suci, keluarga Ali bin Abi Thalib karamalllahu wajhah, bernazar akan berpuasa selama tiga hari setelah Allah memberikan kesembuhan bagi kedua buah hatinya, Hasan dan Husain yang saat itu sedang sakit. Setelah keduanya sembuh, Ali bersama seluruh anggota keluarganya melaksanakan nazar tersebut. Saat itu di rumah beliau hanya ada persediaan yang sangat terbatas.

Hari pertama, ketika hendak berbuka puasa, seorang miskin yag kelaparan dating mengetuk pintu. Ali pun memerintahkan untuk memberikan makan yang telah tersedia kepada si miskin. Malam itu keluarga beliau hanya berbuka dengan air saja.

Hal serupa pun terulang dihari berikutnya. Anak yatim di hari kedua dan tawanan perang di hari ketiga. Ali pun memberikan makana itu kepada mereka. Kedermawanan Ali dan keluarganya ini pada saat mereka sedang memerlukannya. Bukan saat berlebih.

Dalam Al Muwaththa, Imam Malik meriwayatkan bahwa pernah ada seorang miskin datang menemui Ummul Mukminin Aisyah r.a. sedang ia dalam keadaan berpuasa dan tidak ada makanan pun di rumahnya melainkan hanya roti kering. Ia pun meminta pelayannya untuk memberikan roti tersebut kepada si miskin. Saat sore hari, tiba-tiba saja ada orang yang mengirimkan hadiah seekor domba kepada mereka. Padahal orang tersebut sebelumnya tidak pernah memberikan mereka hadiah.

Kita mungkin masih bisa berkilah dengan berbagai alasan. ‘ah… mereka kan sahabat Rasulullah, ah beliau kan isteri Rasulullah… mereka memang sudah terdidik dan punya iman yang mantap’. Kita kan jagonya mencari alasan. Kambing-kambing pun kita hitamkan. Untuk lebih menyentuh kita, coba simak kisah Bai Fang Li.

Sebagaimana dimuat di situs andriewongso.com, Bai Fang Li hanyalah seorang tukang becak. Namun kedermawanannya menghentakkan sadar kita. Hidupnya sederhana. Tapi, semangatnya membuncah menjelajah buana. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.

Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Lantas, bagaimana dengan kita? Belum cukupkah contoh kedermawanan mereka menstimulus kita untuk berbagi dengan sesama? Tidak pernah ada dalam catatan sejarah, orang yang jatuh miskin karena bersedekah. Kekikiran dan keengganan kita hanya karena kita telah terbuai dengan nafsu. Mata dan hati kita telah menjadi buta. Sehingga kita tidak mampu lagi membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Sungguh, kebutuhan dan keinginan itu sangat berbeda. Kebutuhan akan begitu mudah untuk kita penuhi. Namun keinginan akan terus menghantui dan tidak akan pernah bisa dipuaskan. Karena keinginan memang tidak terbatas.

Untuk memberdayakan diri mampu bersedekah, tanamkan dalam hati bahwa kebutuhan kita sebenarnya bukan tidak terbatas. Tapi terbatas. Makan sehari cukup 3 piring. Dalam sebulan 90 piring. Engga mungkin kita bisa makan sampai 10 piring per hari.

Oleh karenanya, bertanyalah secara jujur pada diri kita, sudah adakah niat dalam diri kita untuk merutinkan bersedekah? Jika sudah, ikhlas atau terpaksa? Ingatlah, bahwa kita akan kembali kepada Allah. Tidak ada yang kita bawa, selain kain kafan yang menyertai kita. Harta benda kita semuanya akan tinggal di dunia. Hanya sedekah di jalan Allah yang akan menyertai seorang hamba menghadap-Nya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2013 in Sedekah

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: