RSS

‘Dak’ Yang Melenyapkan Iman

03 Apr

ImageDak na pat lon kubah si nyak, lon jak lon-lon u Banda,”. Tentunya, kita sering mendengarkan kalimat semisal itu. Bahkan mungkin kita kerap menggunakannya dalam keseharian kita. Kata dak, deuk dan dok adalah vocab-nya bahasa Aceh. Ketiga kata tersebut sangat lazim menyusup dalam berbagai tema dialog yang kita perankan. Ketiganya adalah kata-kata biasa. Bukan kata-kata keramat. Namun, jika memposisikannya pada situasi dan kondisi yang tidak tepat. Maka ia bisa melenyapkan keimanan kita tanpa kita sadari.Dalam etimologi bahasa Aceh kata ‘dak’ bermakna sebuah pengandaian. Sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa perbuatan tertentu akan dapat dilakukan, jika saja tidak ada kejadian lain yang merintangi.  Sehingga akan muncul kata-kata “dak meunoe” atau “dak meudeh.”.

Meski kadang-kadang pengandaian dibutuhkan untuk menentukan langkah atau kebijakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan. Namun, ia meski memiliki rambu yang jelas, agar tidak terjebak dalam hal yang bertentangan hukum syara’. Lantas, seperti apa Islam mengatur dalam perkara berandai-andai ini?.

Rasulullah saw. Bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah tetapi masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah meraih apa yg bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah. Jika sesuatu menimpamu jangan katakan: ‘Andaikan aku lakukan ini niscaya akan begini dan begini’ tetapi katakan: ‘Semua ini takdir Allah, Dia mengerjakan apa yang Dia kehendaki, karena ‘andaikan’ membuka pintu bagi amalan setan.”(HR. Muslim : 2664).

Al Hafizh Ibnu Hajar menukil ucapan al Imam al Qurthubi dalam al Mufhim: “Maksud hadits yang diriwayatkan muslim ialah bahwasanya yang diwajibkan setelah takdir terjadi adalah menerima keputusan Allah swt, ridha dan tidak usah memperhatikan apa yg telah lewat karena jika disebutkan apa yang telah lewat maka ia akan berkata: ‘Andaikan aku lakukan ini tentu akan begini’ maka bisikan setan akan masuk dan itu berkelanjutkan sehingga timbul penyesalan. Karena itu, dia akan menentang takdir yang telah terjadi karena mengandai-andai. Inilah amalan setan yang kita dilarang melakukan sarana-sarana yang menyebabkan amalan tersebut dengan sabda Nabi saw: “Jangan katakan andaikan karena akan membuka pintu amalan setan.” namun maksud hadits ini bukanlah tidak dibolehkannya secara mutlak mengucapkan andaikan karena Nabi saw telah mengucapkannya pada beberapa hadits. Hanya, pengucapan andaikan secara mutlak dilarang apabila pemutlakkan itu mengindikasikan penolakan takdir.” (Fathul Bari: 15/147).

Islam mengatur pengandaian dengan jelas. Ada batasan dan rambu. Sehingga tidak terjebak pada hal yang bisa merusak keimanan dan menghancurkan aqidah. Buktinya, di dalam Al-Quran juga ada pengandaian. Lihat saja firman Allah dalam surat Kahfi ayat 109,

Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)“.

Kata ‘sekiranya’ dalam ayat diatas juga bermakna pengandaian. Mengandaikan laut menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allah. Selain itu juga terdapat dalam surah Al Hasyr ayat 21,

Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”.

Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa berandai-andai di dalam Islam memiliki aturan. Jika ia lurus sebagaimana yang digariskan Islam. Maka kita akan selamat. Namun, jika ia melenceng dari apa yang telah ditetapkan. Maka sungguh kita telah meluncur jatuh, jauh, terjerambak dalam kehinaan. Hingga akidahnya luntur, bahkan bisa terjebak dalam kekufuran dan kekafiran.

Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam menggunakan kata-kata pengandaian. Agar kita tidak terjebak kepada kekufuran. Jangan berandai untuk berinfak atau bersedekah saat kita menjadi kaya, saat kita berpunya. Tapi mulailah dari sekarang. Meski hanya dengan menjumpai saudara dengan wajah tersenyum ceria. Karena kesempatan dalam hidup ini, biasanya hanya datang sekali. Wallahu a’lam.

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 3, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: