RSS

Perhatikan Bahasamu Saat Berbicara Pada Anakmu

24 Nov

image

Pagi itu, isteriku berkata pada buah hati kami yang baru berusia 2,8 tahun. “Sayang, jangan bawa tablet abi ke luar. Nanti tabletnya diambil Akhon (nama panggilan sepupunya).”

Saya sempat terhenyak mendengar kata-kata tersebut. Memang sepintas bahasanya biasa saja. Sebuah larangan yang disertai dengan sebuah alasan. Sudah menjadi kebiasaan memang, saat kita melarang sang anak, kita menyertai dengan alasan kenapa kita melarangnya. Maksudnya tentu agar larangan kita bisa langsung ditaati oleh si buah hati. Namun, masalahnya adalah kadang kala kita jarang memperhatikan kata yang kita sampaikan sebagai alasan larangan kita. Bisa saja kata yang kita pilih berimplikasi negatif bagi anak, yang efeknya akan kita tuai secara jangka panjang.

Kalimat isteri saya di atas contohnya. Secara makna, maksudnya sudah pasti baik. Mencegah tablet di bawa keluar rumah agar terhindar dari resiko yang mungkin terjadi, seperti terjatuh atau lainnya. Namun, secara tidak langsung kata-kata yang dipilih sebagai alasan pembenaran larangannya bisa berimplikasi negatif si anak.

Kalimat “nanti tabletnya diambil Akhon”, secara tidak langsung akan menggambarkan sosok “Akhon” dalam benak anak kami sebagai anak yang jahat. Suka mengambil barang anak lain. Tipe anak yang tidak bisa dijadikan teman bermain. Dan berbagai anggapan lain yang bisa saja muncul dalam benak anak kami.

Memang ucapan yang tidak terulang bisa saja tidak menimbulkan efek apa-apa. Tapi, jika dalam jangka pajang, apabila kalimat seperti itu terus berulang, maka tidak tertutup kemungkinan akan membentuk pola pikir yang berujung pada satu konklusi bahwa “akhon” bukan teman yang baik.

Abu Hamid Al-Ghizali pernah berujar, sebagaimana dikutip dalam buku Selamat Anda Menjadi AyahKetahuilah, anak adalah sebuah amanah. Hatinya bersih bagai permata. Dia akan menerima apa saja yang diberikan kepadanya. Dia akan baik bila orang tuanya membiasakan hal-hal yang baik kepadanya, membimbing dan mengajarinya. Namun, jika hal-hal yang tercela yang diberikan, dia pun akan menirunya. Tanggung jawab ada di pundak Anda, sebagai orang tua. Jaga dia, bimbing, ajarkan kepadanya bagaimana berperilaku menawan dan jauh dari teman yang menyesatkan.”

Jadi, apapun yang kita sampaikan kepada anak kita, seharusnya benar-benar melalui pertimbangan yang benar. Sehingga kata-kata dan perilaku kita tidak menjadikan mereka berfikiran dan berperilaku negatif. Saringlah setiap apa yang akan kita sampaikan kepadanya. Karena tutur kata akan mencerminkan budi bahasa. Budi bahasa yang baik mencerminkan akhlak yang baik.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 24, 2015 in Keluarga

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: