RSS

Agar Puasa Kita Tidak Sia-Sia

22 Jun

arti-puasa-lirik-lagu-anakRasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani)

Sebagian kita pasti terperanjat, terperangah membaca hadits ini. Karena sebagian kita mengira semua perjuangan dan pengorbanan kita melawan hawa nafsu sebulan penuh akan memenangkan predikat taqwa di akhir Ramadhan. Dan inilah kenyataannya. Ternyata tidak semua kita akan merasakan manisnya buah kemenangan saat Idul Fitri tiba. Karena sebagian diantara kita berpuasa, tapi puasa kita tidak bernilai apa-apa di sisi Allah SWT. Lha, kok bisa? Untuk lebih jelas mari kita kupas satu persatu.

Akan halnya ibadah-ibadah yang lain, puasa juga memiliki kaifiyat, tata cara menunaikannya. Ada rukun puasa, ada syarat sah puasa, ada hal-hal yang bisa membatalkan puasa dan ada juga hal-hal yang bisa membatalkan pahala puasa. Tentunya, kita tidak akan membahas semua itu disini, karena keterbatasan waktu dan tempat. Jika pembaca tertarik, silahkan merujuk ke alim ulama terdekat atau mencari buku-buku yang membahas tentang fiqh shiyam/puasa.

Disini kita akan melihat beberapa hal yang insya Allah jika kita bisa mengantisipasi dan menyikapinya dengan baik, puasa kita tidakkan berakhir sia-sia. Pertama, berniatlah sebelum fajar tiba. Rasulullah SAW bersabda,

Barang siapa yang belum berniat puasa sebelum fajar. Tidak ada puasa baginya.” (H.R. Tirmidzi)

Jumhur ulama mengatakan bahwa, niat puasa Ramadhan itu harus di-qasad-kan setiap malam sebelum fajar tiba. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa boleh berniat sekali untuk satu bulan penuh adalah pendapat yang lemah.

Menurut tuntunan syari’ah, yang dimaksud dengan niat adalah, qashdu syai-in muktarinam bi fi’lih, mengqasadkan sesuatu beriringan atau berbarengan dengan mengerjakan perbuatan tersebut. Bukan berniat jauh sebelum amal itu dilakukan.

Kedua, Tundukkanlah pandangan. Puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Jabir bin ‘Abdillah, dalam Latha’if Al Ma’arif menyampaikan petuah yang sangat bagus:

Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

Dengan menundukkan pandangan, mata akan terjaga dari segala hal yang tidak halal dilihat. Segala yang haram itu berpotensi melalaikan hati dari dzikrullah. Ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Pandangan adalah salah satu anak panah beracun di antara anak panah Iblis, semoga Allah melaknatinya. Barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah memberinya keimanan yang merupakan kelezatan dalam hatinya.” (HR.Hakim)

Ketiga, Jaga lisan dan teliga dari perkataan yang tidak diridhai oleh Allah SWT. Bergosip, membicarakan orang lain telah menjadi biasa di tengah-tengah kita. Pantang berkumpul, maka ghibah pun segera meluncur. Pantang bersama, bergunjing pun bergema. Tidak mesti di tempat maksiat, di rumah Allah (masjid) pun jadi. Lihat saja berapa banyak kaum muslimin yang selesai shalatnya bersantai di teras masjid atau mushalla, dan yang mereka kerjakan adalah membicarakan saudaranya. Na’uzubillah

Rasulullah mengajarkan kita, agar kita menjauhkan hal-hal demikian, apalagi kita dalam keadaan berpuasa.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya puasa adalah perisai. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa maka jangan berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika ada seseorang menyerang atau mencaci, katakanlah “sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Keempat, Jangan makan berlebihan saat berbuka. Rasulullah mengatakan bahwa saat berbuka adalah saat yang paling indah bagi hamba. Karena bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat nanti melihat wajah Tuhannya. Sehingga tidak salah waktu berbukan menjadi tempat paling di-ijabahnya doa. Namun sayangnya, sebagian kita menjadikan momen berbuka ini menjadi momen balas dendam. Menjamak makan pagi dan siang pada saat berbuka. Dan jadilah suasana berbuka sebagai ladang pembantaian nafsu serakah kita.

Jika hal ini yang terjadi, maka orang yang berpuasa tak lebih baik dari orang yang tidak berpuasa. Indatu kita pernah berkata, bu sikai, ie sikai, ngob hatee, gadoh akai. Artinya bahwa, makan secara berlebihan akan menjadikan kita memperturutkan hawa nafsu kita. Padahal pokok dari ajaran berpuasa adalah mendidik manusia untuk mengendalikan nafsunya. Baik nafsu perut maupun nafsu syahwat.

Inilah beberapa hal yang bisa menjadi renungan kita bersama. Agar puasa kita bisa bernilai di sisi Allah swt. Sehingga predikat taqwa sebagaimana janji Allah dalam surat Al-Baqarah : 183 bisa mewujud adanya bagi kita. Wallahu a’lam.

Pernah dimuat di Rubrik Cermin Halaman Mimbar Jum’at koran Harian Aceh 5 Agustus 2011

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2016 in Syari'ah

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: