RSS

I’tikaf Ber-Wifi

26 Jun

i'tikafUnik. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat Aceh hari ini. Di saat orang-orang sedang sibuk-sibuknya memburu fahala di sepuluh akhir Ramadhan dengan beri’tikaf di masjid-masjid, sebagian orang Aceh malah menghabiskan malam Ramadhannya dengan menongkrongi warung-warung kopi.

Budaya berkumpul di keude kupi, memang telah menjadi tabiat – kalau tidak mau dikatakan telah menjadi adat –  sebagian besar masyarakat Aceh. Syiek-putiek, tuha-muda kerap memiliki hobby yang serupa. Ngumpul di keude kupi. Jika ditilik dari latar belakang berkumpulnya mereka disana. Maka kita akan memperoleh alasan yang sangat beragam. Mulai dari urusan kantor sampai urusan rumah tangga. Mulai dari urusan politik sampai urusan proyek. Mulai urusan memuja-muja pemerintah sampai urusan menghujatnya. Bahkan ada juga yang datang hanya sekedar menghabiskan waktu luangnya, serta sedikit bersenang-senang, sekaligus bersilaturrahmi dengan teman.

wifi

Jika tongkrongannya hanya sebatas mencari suasana rileks dari kepenatan seharian bekerja, mungkin itu akan menjadi lumrah. Namun, apa jadinya jika sepanjang malam mereka terus berada di sana?

Ini adalah contoh buruk bagi generasi yang akan datang. Memang tidak ada salahnya berkumpul di sana. Apalagi, hampir semua warung kopi di Banda Aceh saat ini dilengkapi dengan fasilitas wifi, jaringan internet gratis. Tentunya, dengan demikian nongkrong di keude kupi akan menjadi tongkrongan intelek. Tapi, sayangnya kebanyakan pengguna fasilitas tersebut hanya memanfaatkannya sebatas pada chatting, FB-an dan bermain game. Celakanya adalah ada sebagian lain yang memanfaatkannya sebagai tempat bermain judi poker yang legal. Masya Allah.

Terkait dengan momen Ramadhan, apalagi memasuki masa sepuluh akhir. Dimana janji Allah memberikan bonus bagi hamba-hamba-Nya yang tekun sejak awal Ramadhan dengan Lailatur Qadr, malam seribu bulan. Sebagaimana firman-Nya ;

Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. Qadr : 1-5)

Tentunya, tongkrongan di keude kupi di malam-malam tersebut telah menjadi bukti betapa kita telah mengacuhkan karunia Tuhan kepada kita. Bukankah menganggap remeh karunia Allah termasuk kedalam golongan orang-orang yang kufur nikmat?. Dan ia diganjar dengan vonis fasiq?

Dimana saat sebagian orang berlomba-lomba merengkuh ampunan Allah. Memburu malam Qadr, yang jika mendapatkan momen itu akan menjadikan kita punya stok amal selama 83 tahun 4 bulan. Dengan beramai-ramai memakmurkan masjid dengan beri’tikaf. Tapi, sebagian kita malah asyik-masyuk dengan dunia hura-hura kita. Hedonisme kita. Jika kita boleh bertanya, apa sih yang kita cari di dunia ini?

Jangan-jangan kita telah lupa dengan hakikat penciptaan kita. Alasan kita dilahirkan ke dunia ini. Bukankah Allah telah berfirman,

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (mengabdi) kepada-Ku.”

Jika hakikat ini telah kita lupakan. Maka jangan pernah menyalahkan keadaan. Apalagi menyalahkan Tuhan. Saat kemalangan dan bencana terus menerus mengerubuti kita. Karena sesungguhnya kita sendirilah yang menciptakan kemelaratan bagi kita. Bukankah dalam Surat Ibrahim Allah mengingatkan kita,

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Jika demikian, kenapa kita masih begitu semangat untuk mengacuhkan Allah. Mengacuhkan pemberian-Nya. Menghabiskan waktu sepanjang malam yang seharusnya kita gunakan untuk memperbanyak amal ibadah kepada Allah demi mendapatkan janji-Nya dengan sesuatu yang tidak disukai-Nya. Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa zaman telah modern dan Lailatul Qadr itu akan datang melalui Keude kupi? Melalui perantaraan Wifi? Wallahu a’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 26, 2016 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: