RSS

Menikmati Kelaparan

26 Jun

kelaparanTidak ada manusia yang ingin hidup dalam keadaan lapar atau kelaparan. Begitu pula, tidak ada manusia yang mau hidup dalam kesusahan. Apalagi dalam penderitaan. Namun, ketika semua itu dilakukan dengan tulus demi cinta. Maka semuanya akan menjadi indah. Baginilah ibarat orang yang berpuasa.

Sejatinya puasa bukanlah menahan sesuatu yang diharamkan. Tetapi ia adalah menahan diri dari semua yang dihalalkan bagi manusia di bulan lain, selain Ramadhan. Yang berarti bahwa dengan penuh ketulusan seorang hamba rela meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya demi patuh, taat dan cintanya kepada Allah.

Para pecinta sering mengibaratkan bahwa jika seseorang telah jatuh cinta. Maka bagi dia semuanya menjadi indah. Lihat saja kisah cinta Majnun dan Laila, kisah cinta Romeo dan Juliet. Sang pencinta akan mengorbankan segalanya demi cintanya kepada sang kekasih. Penderitaan akan berubah menjadi suatu kenikmatan ketika semua itu dilakukan atas dasar cinta dan kecintaan.

Lantas, nilai apa yang ingin ditanamkan Allah dalam perintah kewajiban puasa ini bagi hamba-Nya?. Bukankah ekspresi cinta tidak melulu harus ditunjukkan dengan sebuah penderitaan?.

Mungkin sudah menjadi tabiat manusia bahwa kehadiran seseorang atau sesuatu akan begitu terasa ketika ia telah pergi menjauh dari dirinya. Anak-anak akan merasa betapa ia butuh kepada orang tua ketika mereka telah tiada. Suami akan begitu merasa butuh kepada isteri ketika sang isteri telah tiada. Kesehatan akan begitu bermakna ketika sakit. Muda akan begitu bermakna ketika tua. Waktu luang akan begitu bemakna ketika telah sempit. Dan kekayaan akan begitu bermakna ketika kemiskinan datang. Sehingga Rasulullah jauh-jauh hari telah mengingatkan kita,

Ambillah kesempatan lima sebelum lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, hidupmu sebelum mati, dan senggangmu sebelum sibuk.” (HR. Al Hakim dan Al-Baihaqi)

Inilah salah satu hikmah Allah mewajibkan puasa bagi hamba-Nya. Yaitu menajamkan perasaan manusia terhadap nikmat yang telah dilimpahkan-Nya. Akrabnya nikmat dengan seseorang akan bisa membuat seseorang kehilangan perasaan terhadap nilai nikmat tersebut. Ia tidak mengetahui kadar kenikmatan, kecuali jika sudah tidak ada lagi di tangannya. Dengan hilangnya nikmat, berbagai hal dengan mudah dibedakan.

Seseorang baru dapat merasakan nikmatnya kenyang dan nikmatnya pemenuhan dahaga jika ia kelaparan dan kehausan. Jika ia merasa kenyang setelah lapar, atau hilang dahaga setelah kehausan, akan keluar rasa kesyukuran dalam relung hatinya yang paling dalam. Dengan demikian ia akan terdorong untuk lebih care, peduli, dengan sekelilingnya. Ia akan terdorong untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah kepadanya. Inilah yang diisyaratkan oleh hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi, Rasululllah bersabda,

Tuhanku pernah menawariku untuk menjadikan kerikil di Makkah emas. Aku menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku. Akan tetapi aku kenyang sehari dan lapar sehari. Apabila aku lapar, aku merendah sembari berzikir kepada-Mu., dan apabila aku kenyang, aku memuji-Mu dan bersyukur kepada-Mu.

Ketika seseorang mengalami hal demikian. Maka ia akan mudah untuk berbagi kenikmatan yang dimilikinya dengan orang lain. Sehingga nilai sosial dalam masyarakat akan semakin tinggi. Al-Allamah Ibnu Hammam berkata, “Tatkala ia merasakan pedihnya lapar pada sebagian waktunya, ia akan teringat perasaan ini di seluruh waktunya, lalu timbullah padanya rasa kasihan.”

Pada bulan Ramadhan ini terdapat peringatan praktis selama sebulan penuh, yang mengajak kepada sikap kasih sayang, persamaan dan lemah lembut, antara satu individu dengan yang lain. Karena itu dalam beberapa riwayat, ramadhan juga disebut sebagai syahr al muwasah (bulan solidaritas) dan Nabi SAW lebih pemurah dalam memberikan kebaikan dibandingkan angin yang bertiup.

Adalah benar bahwa puasa Ramadhan merupakan madrasah mutamayizah (sekolah istimewa) yang dibuka oleh Islam setiap tahun untuk proses pendidikan praktis menanamkan seagung-agung nilai dan setinggi-tinggi hakikat. Barang siapa memasukinya, menjalin hubungan dengan Tuhannya disana, mengerjakan puasa dengan baik sebagaimana diperintahkan, lalu menjalankan qiyamullail sebagaimana yang disyariatkan Rasulullah SAW, ia telah berhasil menempuh ujian  dan keluar dari musim ujian dengan mendapatkan keuntungan yang besar dan penuh berkah. Keuntungan apalagi yang lebih besar dari pada menerima ampunan dan diselamatkan dari api neraka? Maka nikmatilah rasa lapar dan dahaga itu sebagai perwujud kecintaan da kepatuhan kita kepada Allah swt. Dan perbanyaknya bersedekah. Wallahu a’lam.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 26, 2016 in Sedekah, Syari'ah

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: