RSS

Ie Mata Di Hari Raya

30 Jun

anak yatimPagi itu Rasulullah baru saja selesai dari menunaikan shalat ‘ied, ketika ia berjumpa dengan sekumpulan anak-anak yang sedang bermain bersama, saling bercengkrama, merayakan ‘ied penuh gembira dan canda tawa. Memang suasana ‘iedul fitri memiliki makna tersendiri bagi anak-anak. Kegembiraan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Namun, di tengah keramaian itu, Rasulullah menemukan seorang anak yang menyendiri di satu pojok. Ia tampil berbeda dengan anak lainnya. Bajunya penuh tambal sulam. Sepatunya pun telah usang. Ada kedukaan di wajahnya yang polos. Ada kepiluan dari semburat wajahnya. Dan ada kegetiran yang coba ditanggung disana.

Rasulullah pun menghampirinya. Gadis tersebut malah membenamkan kepalanya ke dalam kedua telapak tangannya, dan menangis tersedu-sedu. Rasulullah meletakkan tangannya yang mulia diatas kepala gadis kecil itu dan berkata, “Anakku, kenapa engkau menangis?.”. “Bukankah hari ini adalah hari bahagia? Lihat, semua teman-temanmu bergembira. Tapi, engkau malah berduka. Katakan anakku… katakan…” Dengan tetap menundukkan kepala, tanpa melihat ke arah yang bertanya, gadis kecil itu berkata, “Hari ini, semua anak menginginkan agar bisa merayakan hari raya bersama orang tuanya dengan bahagia. Mereka pun bermain dengan riang gembira. Sedangkan aku… dulu, saat ayah masih ada, aku pun seperti mereka. Namun, kini ia telah tiada. Di hari raya terakhir bersamanya, Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah saw. Ia bertarung bersamanya bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Aku pun kini telah menjadi yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?”

Rasulullah begitu terenyuh mendengar ungkapan gadis kecil itu. Ia pun membelai lembut kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang, seraya berkata, “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? …. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu…. dan Aisyah menjadi ibumu…. Bagaimana pendapatmu tentang usulku ini?

Mendengar ucapan tersebut, gadis kecil itu pun mengangkat kepalanya. Dan subhanallah, ia  pun bertasbih, karena orang yang berbicara dengannya ternyata Rasul yang mulia, Muhammad al-Mustafa. Betapa gembira hatinya mendengar kata-kata Rasulullah, hingga ia tidak mampu berkata-kata, hanya anggukkan kepala yang mampu dilakukannya sebagai tanda setuju. Akhirnya, ia pun bergandengan tangan dengan Rasulullah menuju rumah. Kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, bisa bergandengan tangan dengan tangan yang lembut selembut sutra, tangan manusia yang paling mulia di sisi Allah swt.

Sesampai di rumah, wajah dan tangan gadis kecil itu dibersihkan oleh Aisyah. Rambutnya pun disisir oleh Fatimah. Semua keluarga Rasulullah menyayanginya penuh cinta. Kemudian Gadis kecil itu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu.

Inilah sepenggal kisah yang begitu indah dari episode kehidupan Rasul yang mulia. Dan penggalan-penggalan kisah ini akan senantiasa terulang sepanjang sejarah kehidupan manusia. Kisah kepiluan si yatim yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Ditinggal mati ayahnya atau ibunya, bahkan keduanya. Yatim atau piatu, bahkan yatim-piatu. Kisah ini berulang, karena mereka (yatim dan piatu) ada di sekitar kita. Cuma kadang kita tidak begitu peduli dengan keadaan mereka. Kita membiarkan mereka dengan diri mereka sendiri. Sehingga air mata di hari raya itu akan kembali lagi menetes.

Begitu pedulinya Rasulullah dengan anak yatim sampai-sampai beliau memberi jaminan surga bagi mereka yang memelihara anak yatim. Bahkan dia (yang memelihara anak yatim) akan bersama Rasulullah di Surga. Rasulullah bersabda,

Berkah-anak-yatimSaya dan orang yang memelihara anak yatim, seperti dua jari ini (seraya merapatkan jari telunjuk dan jari tengah) di dalam surga.

Indah dan mudah bukan? Hanya saja kita malas untuk mendapatkannya. Padahal posisi seperti ini belum tentu didapatkan dengan beribadah sepanjang hidup.

Karenanya, Hari Raya tinggal menghitung hari saja. Meugang sudah di depan mata. Jangan sampai di hari meugang dan hari raya, kita bisa bersenang-senang dengan anak isteri kita, tertawa gembira menyambut idul fitri tiba. Sementara anak yatim di sekeliling kita berurai air mata. Apalagi di bumi kita, bumi Iskandar Muda, nanggroe peunulang indatu kita masih begitu banyak yatim yang membutuhkan uluran tangan kita. Dekapan hangat penuh mesra dari diri kita. Yatim warisan konflik masa lalu. Yatim korban bencana gempa dan tsunami 2004 lalu dan yatim lainnya. Mereka butuh perhatian kita.

Jangan bilang meneladani Rasulullah, jika kita masih mengabaikan mereka (yatim). Apalagi sampai menelantarkan bahkan menghardik mereka. Selamat Idul Fitri 1437 H, Taqabbalallahu minna wa minkum, kullu ‘am wa antum bi khair.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2016 in Syari'ah

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: